BIODATA
BIODATA
Nama : Amalia MW
NIM : 2015.01.126
Prodi : IV PAI B
No.
HP : 0857 8827 9977
Alamat : Kayuagung, kab. OKI
TTL : Kayuagung, 03 Juni 1996
Anak :
ke 3 dari 6 bersaudara
Asal
sekolah : -SD 15 celikah, kayuagung
-Mts. Al-Ittifaqiah, indralaya
-SMA IT bina insani,
kayuagung
Kesan Selama di STITQI :
Mendapatkan
berbagai macam ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut kepada orang-orang
membutuhkan dan bertutur kata yang baik
Harapan STITQI ke Depan :
Semoga
STITQI ke depan menjadi yang lebih baik, populer, dan menjadi salahsatu
universitas yang terbaik
Opini Tentang Maraknya “Hoax” di Dunia Maya
Semakin maraknya penggunaan jejaring sosial dan internet,
maka semakin meningkat pula upaya kasus penipuan. Mulai dari minta transfer
uang hingga memungkinkan para pelaku kejahatan untuk mendapatkan akses
berpura-pura menjadi teman kita di Facebook. Saatnya kewaspadaan ditingkatkan
dengan tidak mudah percaya begitu saja apa dengan apa yang diunggah ke dunia
maya.
Psikolog dari University of Melbourne, Australia,
Brent Coker yang juga pakar perilaku di dunia maya mengatakan ada beberapa
alasan mengapa berbagi dan menyukai postingan di Facebook.
"Mengapa bisa menyebar dan menjalar, itu karena membangkitkan emosi
yang kuat dan menciptakan sesuatu yang kita
sebut gairah kognitif yang memotivasi orang untukbertindak," kata Dr Coker. "Dengan
mendapatkan 'Likes' atau ketika postingan kita di-share, ada ganjaran
psikologis yang besar."
Dr Coker mengatakan saat sebuah pesan dikirimkan
dengan mengatasnamakan sebuah perusahaan, biasanya orang-orang sudah bisa
bersikap skeptis. Tapi saat diunggah ke halaman Facebook, kemungkinan besar
orang-orang malah menjadi percaya.
Diungkapkan oleh Kesubdit IT dan Cyber Crime Bareskrim
Polri Kombes Pol Himawan Bayu Aji, masyarakat harus meneliti kebenaran berita
sebelum mencernanya.
"Akhir-akhir ini memang banyak di media sosial,
hal-hal yang berkaitan dengan berita yang perlu diteliti betul akurasi
kebenarannya, kita sebut dengan hoax," kata Himawan saat
ditemui usai menjadi pembicara di acara Indonesia Internet Expo and Summit yang
diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di
Jakarta, Kamis (24/11/2016).
Himawan mengatakan, sejauh ini Subdit Cyber Crime
mengetahui ada beberapa cara penyebaran berita hoax di
internet.
"Pertama kita sebut sebagai buzzer. Buzzer itu
awalnya adalah kegiatan positif untuk mempublikasikan dan memberitakan hal-hal positif
tentang sebuah kegiatan. Namun selama perkembangannya banyak digunakan untuk
menyebarkan hal-hal negatif, bahkan berita hoax," kata
Himawan.
Ia menambahkan, dalam menyebarkan berita hoax,
ada tim khusus yang memiliki kemampuan grafis. Sehingga bisa memberikan gambar
atau kata-kata yang tidak sesuai dengan kebenarannya. Kemudian, berita hoax juga
terlihat dari ketidaksesuaian antara judul dan isi.
Penyebaran berita hoax juga dilakukan
oleh tim yang melakukan rayuan-rayuan dengan membuat akun-akun pro-kontra
terhadap sesuatu. Menurut Himawan, biasanya si pembuat akun adalah orang yang
sama namun memiliki beberapa akun.
"Pemilik akun itu sengaja membuat akun yang
sifatnya pro dan ada yang kontra. Jadi sengaja membuat situasi jadi pro kontra
dengan memancing warganet bergabung dalam diskusi itu," tutur Himawan.
Apapun motivasinya, hoax yang tersebar di internet
sepertinya tidak akan menghilang begitu saja.
Jika kita perhatikan pesan-pesan berjenis kebohongan
ini muncul di berbagai tempat secara bersamaan, ini menjadi tanda kalau masih
akan ada.
"Kecepatan untuk membagi hoax ini punya peranan
besar soal ini," jelas Dr Coker. Menurutnya, semakin cepat hoax itu
menyebar, maka akan semakin besar kemungkinannya tetap berad di dunia maya, dan
kadang meningkat jadi populer.
Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi
menekankan masyarakat juga jangan ikut meramaikan informasi hoax apalagi
ikut menyebarkannya
"Masyarakat harus melakukan check and
recheck atas suatu informasi. Selain itu, pemerintah harus gencar
melakukan literasi media maya kepada masyarakat," kata Sigit saat
berbincang dengan Okezone, Rabu (11/1/2017).
Kata Sigit, maraknya informasi hoax karena
para pemimpin lembaga tidak mampu mengantisipasi perkembangan teknologi yang
begitu pesat. Oleh sebab itu, harus segera dilaksanakan literasi media yang
mendalam.
"Kegagapan para pemimpin lembaga ditunjukkan
dengan tidak segera mengambil tindakan dan menjadi penonton atas perang hoax ini,"
tutupnya.
Komentar
Posting Komentar